Go Region BUMN, Belajar Dari SCG Yang Kuasai Pasar ASEAN

Go Region BUMN, Belajar Dari SCG Yang Kuasai Pasar ASEAN

Thailand merupakan salah satu negara di kawasan ASEAN yang merupakan pangsa pasar dan tujuan investasi bagi perusahaan Indonesia yang ingin melakukan ekspansi.
Atase Perdagangan Indonesia di Thailand Rita Mutiawati mengatakan, prospek kerja sama bisnis Indonesia dengan Thailand terbuka lebar. Secara rinci, kebutuhan utama Thailand dari Indonesia adalah produk pertanian (buah tropis seperti Alpukat dan manggis), CPO, batubara, serta komponen kendaraan roda 2 dan 4.
“Selain itu, kebijakan tangkap ikan yang semakin keras di Indonesia juga punya dampak positif. Kebutuhan impor Thailand terhadap komoditas ikan tangkap semakin besar. Nilai perdagangan Indonesia-Thailand tahun lalu mencapai sekitar Rp 3,5 triliun,” ujarnya dalam siarannya, Jumat (14/12)



Sebelumnya, sejumlah eksekutif BUMN berkunjung ke Thailand dalam rangka studi benchmarking ‘Global Business Savvy’ yang diselenggarakan oleh Lembaga Managemen FEB UI di bawah koordinasi Dr.Toto Pranoto. Menjadi satu rangkaian dalam kegiatan ini, para eksekutif BUMN dibawa untuk menjalin jaringan bisnis (networking) sekaligus mendapatkan benchmarkingpraktek bisnis multinasional dengan Siam Cement Group (SCG), salah satu konglomerat terbesar di Thailand. Investasi besar di bidang petrochemical dan semen dilakukan dengan mendirikan pabrik baru atau akuisisi perusahaan lokal di Indonesia, Vietnam, Myanmar, Laos dan Malaysia.
Di Indonesia SCG memiliki saham Chandra Asri hampir 30 persen, memiliki pabrik Semen Jawa, mengakuisisi Jayamix dan KIA Ceramic, serta masuk ke pasar ritel dengan akuisisi jaringan Mitra 10. Total investasi di Indonesia mendekati angka USD1,6 miliar dibawah investasi mereka di Vietnam yang mencapai angka USD1,9 miliar.

Head of Strategic Planning & Investor Relations SCG, Pantira Laparojkit, menyebutkan bahwa kunci sukses SCG diletakan pada visi perusahaan yang memfokuskan pada innovation, go region dan sustainability. Mereka memiliki talent dari seluruh kawasan, mendirikan lab yang sophisticated, serta business intellegence yang kuat untuk ekspansi ke kawasan.
“Sejak keluar dari krisis finansial Asia pada awal tahun 2000-an, SCG melakukhan restrukturisasi bisnis radikal dengan mulai diversifikasi ke bidang chemical dan packaging. Langkah ini cukup tepat, karena saat ini sektor chemical menjadi penyumbang terbesar terhadap pendapatan perusahaan,” jelasnya.
SCG menempatkan human capital sebagai prioritas utama dalam pengembangan manajemen. Pada manajerial level mereka mengirimkan eksekutif terbaiknya untuk belajar di Wharton, Harvard Business School, IMD dan sekolah bisnis selevel-nya. Mereka juga bekerjasama dengan perguruan tingi lokal terkemuka seperti SASIN Business School.
“Dalam ekspansi, SCG memandang Indonesia sebagai salah satu Mitra utama dalam bisnis. Mereka menyambut baik tawaran kerja sama dengan BUMN pada bidang usaha di sektor yang mereka kuasai dan memiliki prospek baik kedepannnya,” tandasnya.

(mys/JPC)_Jawa Pos