BUMN FUND UNTUK INFRASTRUKTUR

BUMN FUND UNTUK INFRASTRUKTUR

Jakarta, 28/6 (BUMN Inc ) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menargetkan PT Bandha Investasi Indonesia, sebagai pengelola BUMN Fund, bisa menarik dana hingga tiga miliar dolar AS atau sekitar Rp42 triliun dalam tiga tahun operasinya.

Seperti diketahui untuk mendukung program pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menginisiasi dan membentuk BUMN Fund (private investment firm). Badan ini nantinya menjembatani kebutuhan pendanaan proyek infrastruktur dengan para investor potensial, baik dari BUMN maupun perusahaan swasta.
“Kami bangga mendukung pembentukan BUMN Fund ini. Sebab, pembangunan infrastruktur harus terus digenjot demi membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno di Jakarta, Kamis (28/6).
Rini menjelaskan, salah satu tujuan dari upaya pemerintah membangun infrastruktur yakni guna mengurangi biaya logistik serta meningkatkan konektivitas antar wilayah. Sebagai agen pembangunan, BUMN pun berkomitmen penuh mendukung upaya tersebut. Tak hanya berupa dukungan fisik, BUMN juga didorong untuk turut berpartisipasi dalam pembiayaan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk periode 2014 - 2019, pemerintah akan meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 96,6% dengan membangun pembangkit sehingga kapasistas listrik nasional bisa mencapai 71.000 megawatt (MW) pada akhir 2019.
Pemerintah juga akan mengembangkan 5 pelabuhan utama, memperbesar 10 bandara serta membangun jalan tol sepanjang 1.800 kilometer (km).
“Tentunya untuk membiayai seluruh proyek infrastruktur ini tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah dan BUMN semata, namun juga diperlukan partisipasi swasta serta investor lainnya,” ujar Rini.
Untuk itu Kementerian BUMN mendorong PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) dan PT Danareksa (Persero) melalui anak usaha masing-masing membentuk perusahaan patungan yang akan mengelola BUMN Fund bersama beberapa calon pemegang saham seperti Asuransi Jasindo, Asabri, Jasa Raharja, Taspen, Askrindo dan Jamkrindo. Perusahaan patungan ini bernama PT Bandha Investasi Indonesia.

"Kami harapkan dalam tiga tahun ke depan minimal bisa tarik 2-3 miliar dolar AS, bukan hanya dari BUMN tapi juga dana internasional," kata Menteri BUMN .
Rini mengatakan Bandha Investasi Indonesia, yang merupakan perusahaan patungan dari delapan BUMN sektor jasa keuangan itu dibentuk untuk dapat menjembatani kebutuhan pendanaan proyek infrastruktur nasional dengan para investor potensial baik dari BUMN maupun swasta.

Melihat potensinya yang besar, ia menilai perlu ada perusahaan pengelolaan investasi yang profesional, transparan, dan berstandar internasional. Terlebih, lanjutnya, kebutuhan investasi infrastruktur Indonesia mencapai Rp5 ribu triliun, sehingga membutuhkan alternatif pendanaan.

"Tujuannya, supaya bisa investasi ke infrastruktur dan banyak proyek. Bukan hanya BUMN, tapi juga swasta, kami harap bisa mengundang investor domestik dan internasional untuk ikut perusahaan itu dan ikut investasi," katanya.
Berdasarkan dasar pembentukan, Bandha nanti bertugas untuk menggaet investor, baik dari sesama kalangan BUMN, perusahaan swasta domestik, hingga perusahaan asing untuk mengalirkan pendanaan ke proyek infrastruktur.

Ia ingin kehadiran BUMN Fund ini bisa memberikan arahan dan kepercayaan bagi investor untuk masuk ke proyek. "Selama ini investor tidak tahu detail, jadi belum masuk. Makanya dengan ini, seperti jendela yang juga aman bagi investor," imbuhnya.

Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan saat ini sudah ada 114 proyek infrastruktur yang membutuhkan pendanaan lebih lanjut. Namun, dari jumlah itu, Bandha masih perlu menganalisa proyek mana yang paling tepat untuk ditawarkan ke investor. Hanya saja, ia belum ingin bersuara terkait proyek-proyek yang paling potensial.

Nantinya, investor juga bisa mengalirkan dananya sebagai ekuitas hingga membeli surat utang (obligasi) yang diterbitkan BUMN. Namun, terkait BUMN mana pula yang diproyeksikan, masih enggan dibaginya. Hanya saja, ia memastikan BUMN yang bisa mendapat ekuitas merupakan perusahaan yang kompetitif dan menarik dari sisi bisnis.

Artinya, BUMN yang sudah sekarat tidak masuk dalam hitungan ini. "Kalau BUMN yang merugi, itu nanti diambil BUMN yang lain. Jadi tidak untuk menambal BUMN yang merugi," jelasnya.

Di sisi lain, terkait teknis pelaksanaan perusahaan, Aloy masih enggan merinci. Namun, target terdekat ialah dana kelolaan dalam satu tahun ke depan diharapkan bisa menembus Rp1,8 triliun. Sedangkan efektivitas perusahaan mengelola investasi setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun ke depan.

Skema BUMN Fund diharapkan menjadi solusi bagi pendanaan infrastruktur yang lebih terorganisasi, sekaligus mengoptimalkan pengelolaan dana milik BUMN baik dengan berinvestasi pada proyek maupun portofolio.