Peluncuran IMD World Competitiveness Yearbook 2018 - Indonesia Report

Peluncuran IMD World Competitiveness Yearbook 2018 - Indonesia Report

Peringkat Indonesia pada IMD World Competitiveness 2018:
Turun Satu Ranking di Dunia,
Naik Satu Ranking di Asia Pasifik

Publikasi IMD World Competitiveness Yearbook 2018 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 43 dari 63 negara dari berbagai kawasan dunia yang dikumpulkan oleh IMD World Competitiveness Center. Peringkat ini menurun daripada tahun sebelumnya dari ranking 42. Namun, peringkat ini justru meningkat dilihat dari kawasan Asia Pasifik, yaitu tahun sebelumnya 12 menjadi 11.

Introduksi

International Institute for Management Development (IMD) yang situsnya dapat diakses di www.imd.org, telah melaksanakan studi ini secara rutin sejak 1989. Publikasi tahun ini adalah yang ke-30. Bagian riset IMD World Competitiveness Center yang berdomisili di Lausanne, Swiss, melibatkan lembaga mitra dari berbagai negara. Di Indonesia partner IMD adalah Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB-UI) dan NuPMK Consulting.

LM FEB-UI adalah lembaga yang telah berusia 55 tahun dan memiliki reputasi panjang dalam dunia penelitian, konsultasi, pelatihan, dan asesmen. Pemahaman akan dunia usaha diperoleh dari perjalanan membantu dunia usaha di Indonesia, BUMN dan Swasta, dalam berbagai aspek, seperti penyusunan restrukturisasi (a.l. persiapan pembentukan Holding Company BUMN Pertambangan), perencanaan strategik, audit organisasi, perencanaan sumberdaya manusia, pemetaan anak dan cucu perusahaan, dan lainnya.


Pembicara Dr Toto Pranoto -Managing Director ,
Dr Willem Makaliwe -Chief Economist , Bayuadi MT , Project Coordinator

 Perubahan pada Peringkat Dunia

Dengan menggunakan 258 indikator, baik ‘hard’ maupun ‘soft’ data, dilakukan pengolahan untuk mendapatkan pemeringkatan yang valid. ‘Hard’ data, yang diperoleh dari publikasi statistik, diberikan bobot dua kali lebih besar dibandingkan ‘soft’ data, yang diperoleh dari survey opini eksekutif. Survey yang terakhir untuk menangkap persepsi bisnis atas berbagai isu yang terkait dengan daya saing bisnis.

Komponen penilaian terdiri atas empat faktor kompetitif dengan trend 5 tahun terakhir untuk tiap trend pada masing-masing negara.  Empat faktor tersebut meliputi: Kinerja Perekonomian (mengevaluasi makroekonomi dari perkembangan domestik, trend kesempatan kerja, dan harga), Efisiensi Pemerintah (mendalami apakah kebijakan pemerintah bersifat kondusif bagi daya saing), Efisiensi Bisnis (mendalami apakah lingkungan bisnis nasional mendorong dunia usaha untuk memperlihatkan adanya inovasi, keuntungan, dan tanggung jawab sosial) dan Infrastruktur (mendalami apakah teknologi dasar, keilmiahan dan ketersediaan sumberdaya manusia memenuhi kebutuhan bisnis.  Keempat faktor kompetitif memiliki lima sub-faktor dengan berbagai indikator terkait. 

Dari keempat faktor kompetitif tersebut, studi 2018 menunjukkan posisi Indonesia menurun dari peringkat 42 ke 43. Penurunan ini berkebalikan dari kenaikan Slovenia dari 43 ke 37, dan Italia dari 44 ke 42. Perubahan antar-negara ini mengakibatkan peringkat dunia Indonesia menurun 1 tangga di dunia.  Terhadap peringkat 1 tahun 2018, yaitu Amerika Serikat, nilai index Indonesia sebesar 68,9 terhadap 100. Namun, pada kawasan Asia Pasifik, peringkat Indonesia justru meningkat 1 tangga. Hal ini disebabkan penurunan peringkat Filipina.

Peringkat Indonesia masih harus ditingkatkan untuk bersaing mengejar ketertinggalan dari  Singapura (peringkat 3), Malaysia (naik peringkat menjadi 22), dan Thailand (turun peringkat menjadi 30). Di dunia peringkat 5 besar ditempati oleh: Amerika Serikat, Hong Kong, Singapura, Belanda, dan Swiss.

Implikasi Selanjutnya

Dilihat dari faktor Kinerja Perekonomian, tiga dari lima subfaktor menunjukkan kenaikan, yaitu: Ekonomi Domestik peringkat 13 naik menjadi 10, Perdagangan Internasional 56 naik 51, Investasi Luar Negeri 50 naik 43, Kesempatan Kerja 13 turun 19, dan Harga 34 turun 37. Dilihat dari Efisiensi Pemerintah, empat dari lima subfaktor menurun, yaitu: Keuangan Publik 22 turun 29, Kebijakan Perpajakan 6 naik 5, Kerangka Institusional 40 turun 44, Business Legislation 53 turun 54, Kerangka Sosial 48 turun 51. Dilihat dari Efisiensi Bisnis, empat dari lima subfaktor menurun, yaitu: Produktivitas dan Efisiensi 53 naik 50, Ketenagakerjaan 4 turun 5, Keuangan 38 turun 44, Praktek Manajemen 29 turun 32, Attitutes dan Values 24 turun 28. Dilihat dari Infrastruktur, tiga dari lima subfaktor menurun, yaitu: Infrastruktur Dasar 45 turun 47, Infrastruktur Teknologi 54 turun 57, Scientific Infrastructure 52 naik 49, Kesehatan dan Lingkungan 58 turun 60, dan Pendidikan 61 naik 57.

Daya tarik bisnis di Indonesia dari lima belas indikator menurut survey opini eksekutif, yaitu (1) Dinamisme ekonomi, (2) Biaya persaingan, (3) Sikap yang terbuka dan positif, (4) Lingkungan yang ramah bisnis, dan (5) Kestabilan politik dan dapat diprediksi.  Selain itu, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk diperbaiki adalah: (1) Biaya listrik untuk industri, (2) Ekspor High-Tech, (3) Pajak, (4) Justice, dan (5) Hambatan Tarif.

Selain publikasi indeks daya saing, IMD juga merilis peringkat daya saing digital. Peringkat yang meliputi aspek knowledge, technology, dan Future Readiness, masih berubah dari posisi tahun sebelumnya yaitu 59.

Catatan Partner

Managing Director LM FEB-UI, Toto Pranoto mengatakan, jika mengacu pada studi ini, titik krusial yang dihadapi Indonesia terletak pada semua komponen pembangunan. Pada komponen kinerja ekonomi saat ini memerlukan perhatian dengan harapan mampu menstimulasi pembangunan yang berkelanjutan. Pada komponen efisiensi pemerintahan titik krusial pembenahan perlu dilakukan pada kerangka institusional, hukum bisnis, dan kerangka sosial di dalam pemerintahan itu sendiri. "Pada komponen efisiensi bisnis, aspek yang perlu dibenahi terletak pada daya produktivitas dan efisiensi bisnis," ungkap Toto di Jakarta, Rabu (6/6).

Adapun pada sektor infrastruktur titik krusial terletak pada semua aspek daya dukung pembangunan infrastruktur, meliputi: infrastruktur dasar, teknologi, scientific infrastruktur, kesehatan dan lingkungan, serta edukasi. Sejumlah permasalahan pada government dan corporation, memerlukan ruang harmonisasi supaya kebijakan publik dan bisnis dapat beririsan membentuk pertumbuhan ekonomi yang solid.

"Dengan pertumbuhan ekonomi (Product Domestic Bruto-PDB) tahun 2018 sebesar 5,1-5,2 %, maka dayadukung manajemen sangat diperlukan. Pemahaman manajemen tata kelola kebijakan publik harus dapat memahami tata kelola private sebagai entitas bisnis," jelas Toto. Beberapa keunggulan dalam komponen yang dilihat dalam survey ini merupakan strategic positioning Indonesia dalam perekonomian global. Beberapa aspek tersebut mencakup kebijakan ketenagakerjaan, kebijakan pajak, danpasar tenaga kerja.

"Jika dilihat lebih lanjut, ketiga sektor tersebut merupakan enabler factor dalam pada sektor industri dan pembangunan infrastruktur fisik. Hanya saja, daya dukung infrastruktur masih memerlukan akselerasi atau percepatan pada saat yang bersamaan. Mengingat, semua sektor pada komponen infrastruktur yang dimiliki Indonesia saat ini relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga," pungkas Toto.

Contact:

Ir. Bayuadi Wibowo MT., Group Head, Research LM FEB-UI
Gedung Lembaga Managemet FEB-UI
JalanSalemba Raya No. 4
Jakarta Pusat 10430, Indonesia
Phone: (021) 390 7410 | (021)3193 1610
Website    : LMFEUI