BUMN PRIVATE INVESTMENT FUND

BUMN PRIVATE INVESTMENT FUND

(BUMN Inc) Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung kreativitas BUMN dalam mencari sumber pendanaan, khususnya untuk mendorong pembangunan infrastruktur. Hal ini dilakukan guna mempercepat laju pertumbuhan ekonomi secara merata di Indonesia. Salah satunya adalah melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) guna membentuk instrumen pendanaan infrastruktur atau disebut dengan BUMN Fund di Plaza Mandiri, Jakarta pada Kamis (29/03).

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan langsung oleh PT Bahana Kapital Investa/BKI dan PT Danareksa Capital/DCP yang merupakan anak usaha PT Bahana (Persero) dan PT Danareksa (Persero), serta 27 investor potensial, yang terdiri atas Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dan sejumlah perusahaan jasa asuransi dengan disaksikan langsung oleh Menteri BUMN Rini M. Soemarno yang didampingi oleh Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Gatot Trihargo dan Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Aloysius Kiik Ro.

PT Bahana Kapital Investa, anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha (Persero), bersama 27 BUMN lainnya sepakat bakal membentuk perusahaan private investment fund. Perusahaan pengelola dana investasi ini bertugas mengelola dana investasi yang dimiliki sejumlah BUMN. Selanjutnya, dana tersebut akan dipakai untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur yang strategis. Bahana Kapital Investa bersama Danareksa Capital akan mengelola dana yang dimiliki oleh 8 perusahaan asuransi, seperti Taspen, Askrindo, Asabri dan 13 dana pensiun (Dapen), antara lain Dapen Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, Jasa Marga, Telkom dan lainnya. Pengelolaan dana tersebut akan berada di bawah pengawasan Private Investment Fund yang diharapkan akan terbentuk dalam waktu dekat. ''Untuk membawa Indonesia mampu berkompetisi dengan negara tetangga di Asia Tenggara dalam menarik minat investor asing berinvestasi di Indonesia, kita harus mampu memberikan fasilitas infrastruktur yang memadai sehingga biaya logistik dapat ditekan,'' kata Direktur Utama Bahana Pembinaan Usaha Indonesia Marciano H Herman

Jadi investasi private investment ini bukan public fund. Skema investasi private investment fund berdasarkan kesepakatan para pihak namun jumlahnya tak lebih dari 50 pihak. Jika lebih dari 50 pihak akan masuk ke penawaran umum dan harus mengikuti aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baik jangka waktu investasi, potensi investasi serta potensi risiko juga akan dijabarkan diantara para pihak yang terlibat. "Potensi aset yang bisa kami kelola sama besarnya seperti dana investasi yang dimiliki perusahaan tersebut," ujar Marciano. Dia menambahkan, investasi awal yang dibidik adalah proyek infrastruktur pemerintah. Misalnya, jalan tol, pembangkit listrik, bandara dan kereta api. "Penempatan investasi akan fleksibel dan tidak menabrak aturan yang ada," tandas Marciano.

Potensi dana yang bisa dikumpulkan memang besar. Sebagai gambaran, per Februari dana investasi asuransi wajib, asuransi sosial dan dana pensiun yang terafiliasi dengan BUMN mencapai sekitar Rp 707,88 triliun Soal hasil investasinya, Marciano mengatakan, targetnya bisa lebih tinggi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kalau bersifat equity. Target return lebih tinggi dari deposito kalau bersifat surat utang. Targetnya, BUMN fund ini sudah bisa menggelontorkan investasi dalam dua bulan ke depan.

 

Pemerintah dalam anggaran 2018 mengalokasikan dana Rp 410,7 triliun untuk belanja infrastruktur, naik dari anggaran tahun lalu sebesar Rp 388,3 triliun. Belanja infrastruktur antara lain akan dipakai untuk membangun 865 km jalan baru, 25 km jalan tol, 8.695 km jembatan, penyelesaian, dan lanjutan pembangunan 8 bandara. Namun, dana ini belum cukup untuk mendanai seluruh proyek strategis nasional yang membutuhkan dana yang cukup besar. Kehadiran BUMN Fund ini diharapkan mampu berpartisipasi untuk mendukung pengembangan proyek infrastruktur lainnya.  ''Kehadiran investment fund ini akan menjadi salah satu solusi bagi pendanaan infrastruktur yang lebih terorganisir, sekaligus mengoptimalkan pengelolaan dana milik BUMN baik dengan berinvestasi pada proyek maupun portofolio efek,'' sebut Marciano.

Sumber : Akurat,Kompas,Kontan