JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN NO.5 OKTOBER - DESEMBER 2012

JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN NO.5 OKTOBER - DESEMBER 2012

Relevansi Price Earnings Ratio Waktu Initial Public Offerings Sebagai Prediktor Price Earnings Ratio Setelah Go Public

Tatang Ary Gumanti
Nurhayati
Yones Purnomo


ABSTRACT
Initial public offering (IPO) is the selling of company stocks to the public for the frist time at the capital market. Company making IPO is required to issue prospecus that contains important information about the company. Valuation for firm making initial public offering is difficult due to limited available information prior to the offering. One method that can be used to value IPO is by using price earnings (PER) approach. However, the use of PER for valuation of an IPO needs to be combined with other variables. This study examines the use of PER in predicting future PER of an IPO by combining with company’s growth, debt to assets ratio, company’s risk, and market index return. More specifically, this study aims to analyze the relevance of PER in IPO as a predictor for PER for 1 day, 7 days, 28 days, 1 year, and 2 years after IPO. The sample firm was determined using purposive sampling method. From a total of 105 IPOs between January 2000 and December 2005, the study examines 33 IPO as a final sample. This research uses multiple linear regression to test the proposed hypotheses. The results show that PER pre-IPO is relevant to be used as a predictor for PER after 1 day, 7 days, and 28 days after IPO. The predictive power of PER is declining along with the passing of time. Other results show that company’s growth, company’s debt to assets ratio, company’s risk, and market index return do not have significant influence on PER after IPO.

Keywords: IPO, Price earnings ratio, growth, risk.

ABSTRAK
Penawaran umum perdana (initial public offering = IPO) merupakan penawaran saham suatu perusahaan kepada publik untuk pertama kalinya di pasar modal. Perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana diharuskan untuk menerbitkan prospektus yang memuat informasi-informasi utama dan penting tentang perusahaan. Salah satu jenis informasi di dalam prospektus yang menjadi sumber rujukan calon investor untuk menilai suatu IPO adalah informasi akuntansi. Salah satu informasi akuntansi yang menjadi acuan investor adalah laba per-lembar saham (Price Earnings Ratio = PER). Penilaian suatu IPO tidak mudah untuk dilakukan karena informasi tentang perusahaan sebelum penawaran saham tidak ada atau terbatas. Salah satu pendekatan untuk menilai IPO adalah dengan menggunakan pendekatan PER. Variabel-variabel lain yang secara empiris digunakan untuk menilai suatu IPO antara lain adalah tingkat pertumbuhan perusahaan, rasio kecukupan utang, risiko, dan return indeks pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi PER waktu IPO sebagai indikator PER setelah IPO untuk periode penelitian 1 hari, 7 hari, 28 hari, 1 tahun, dan 2 tahun setelah IPO. Sampel penelitian ditetapkan dengan menggunakan metode purposive sampling yang menghasilkan sampel akhir penelitian sebanyak 33 perusahaan dari total populasi 105 perusahaan yang melakukan IPO pada periode waktu 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2005. Penelitian ini menggunakan alat uji statistik regresi linier berganda. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa PER IPO relevan untuk digunakan sebagai indikator PER setelah IPO untuk periode penelitian 1 hari, 7 hari, dan 28 hari setelah IPO. Kemampuan prediksi PER sebelum IPO cenderung menurun seiring dengan berjalannya waktu. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pertumbuhan perusahaan, debt to assets ratio, risiko, dan indeks pengembalian pasar tidak berpengaruh signifikan terhadap PER setelah IPO.

KATA KUNCI:  IPO, Price earnings ratio, pertumbuhan, risiko.


Pengukuran Segmentasi Produk Fesyen Berdasarkan Perilaku Belanja Konsumen

Nugroho Eko Saputro
Anton Agus Setyawan

 
ABSTRACT
This research aims to analyze what variables are desired and needed by consumers in buying fashion product and describe the shopping behavior of consumers in each segment based on the characteristics of each customer. The variables used in this study are the attributes and benefits of fashion products. The population in this study were students of Management Departement at the University of Muhammadiyah Surakarta. Respondents of the study are 120 students. This research is exploratory research. The method used in the sampling is purposive sampling. Techniques of data collection using questionnaires. This study employs ANOVA in the hypotheses testing procedure, which examined the relationship between shopping orientation to product attributes and benefits of fashion. The test results showed a significant difference between hedonic shopping and the brand in terms of repurchase intentions, as well as a significant difference between the rational shopping and utilitarian attributes. Thus, the orientation of consumer spending can be classified by the attributes of fashion. The conclusion of this study is that there are differences in shopping orientation based on the attributes fashion. In terms of attributes, the factors that consumers consider in making a purchase is the brand and utilitarian attributes. Another result of this study is the significant difference between hedonic shopping and the mode (fashion) of clothes, and there is a significant difference between hedonic shopping and brand value. Then, there are significant differences between the price of the exploration expenditures and convenience of clothes when worn by consumers. Thus it can be said, there are differences in shopping orientation based on the benefits gained by consumers from an clothes, in terms of mode, brand value, and convenience. Consumers who have the characteristics of hedonic shopping, for example, are more concerned with the brand, mode and brand value, while for rational consumers, the utilitarian attributes of the clothes is an important consideration.

KEY WORDS:  Market segmentation, shopping orientation, attribute, benefit.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel apa saja yang diinginkan dan dibutuhkan oleh konsumen dalam membeli produk pakaian dan menggambarkan perilaku pembelian konsumen pada masing-masing segmen berdasarkan karakteristik masing-masing konsumen. Variabel yang dilihat dalam penelitian ini adalah atribut dan manfaat produk pakaian. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Jurusan Manajemen. Sampel yang digunakan sebanyak 120 responden. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Metode yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah purposive sampling. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan alat analisis ANOVA, yaitu menguji hubungan orientasi belanja dengan atribut dan manfaat produk pakaian. Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hedonis belanja dengan merek dalam hal niat pembelian kembali, serta adanya perbedaan yang signifikan antara rasional belanja dengan utilitarian atribut. Dengan demikian, orientasi belanja konsumen dapat dibedakan berdasarkan atribut pakaian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan orientasi belanja berdasarkan atribut yang melekat pada pakaian. Dari sisi atribut, faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam melakukan pembelian adalah merek dan utilitarian atribut. Hasil lain dari penelitian ini adalah adanya perbedaan yang signifikan antara hedonis belanja dengan mode suatu pakaian, dan ada perbedaan yang signifikan antara hedonis belanja dengan nilai merek pada pakaian. Kemudian, terdapat perbedaan yang signifikan antara harga sebagai ekplorasi belanja dengan kenyamanan pakaian ketika dipakai oleh konsumen. Dengan demikian dapat dikatakan, terdapat perbedaan orientasi belanja berdasarkan manfaat yang didapatkan oleh konsumen dari suatu pakaian yang dilihat dari segi mode, nilai merek, dan kenyamanan. Konsumen yang memiliki karateristik belanja hedonis, misalnya, lebih mementingkan merek, mode dan nilai merek, sementara bagi konsumen rasional belanja yang penting adalah utilitarian dari atribut pakaian.

KATA KUNCI:  Segmentasi pasar, orientasi belanja, atribut, manfaat.


Analisis Pengaruh Work-To-Family Conflict dan Family-To-Work Conflict Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Korporat
PT. Kalbe Farma, Tbk.

Oktasari Suryanti
Mone Stephanus

 
ABSTRACT
This research was conducted to examine the effect of work-family conflict (work-to-family conflict) and family-work conflict (family-to-work conflict) on employee’s job satisfaction. Work-to-family conflict is defined as conflict that occurs when conditions in the workplace disrupt family affair. While family-to-work conflict is defined as conflict that occurs when a family affair disrupt the office job. This quantitative research was conducted by survey through questionnaire from seventy five (75) respondents, consist of permanent employees who work in Corporate PT Kalbe Farma, Tbk. This research use a regression model to determine the effect of family-to-work conflict & work-to-family conflict as an independent variables and employee job satisfaction as a dependent variable. After processing data using SPSS version 19.0, the conclusion explains that work-to-family conflict has a significant effect on employee job satisfaction, and family-to-work conflict has no significant effect on employee job satisfaction. This study showed that employees who have high level job satisfaction have low levels of work-to-family conflict. Good interpersonal relationship that exists between employee and a good work environment tend to be able to neutralize the unfavorable mood due to family conflicts. Furthermore, work-to-family conflict and family-to-work conflict simultaneously have an effect on employee job satisfaction. The magnitude of the effects of both independent variables on job satisfaction was 10.9%. While 89.1% are influenced by other variables that are not included in this research such as intelligence (IQ), the employee’s physical condition, the employee’s emotional, salaries and benefits obtained, the physical condition of the working environment, relationship with supervisor and interaction with other employees.

KEY WORDS:  Conflict, family-to-work conflict, work-to-family conflict, employee job satisfaction

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh konflik pekerjaan-keluarga (work-to-family conflict) dan konflik keluarga-pekerjaan (family-to-work conflict) terhadap kepuasan kerja karyawan. Work-to-family conflict didefinisikan sebagai konflik yang terjadi ketika keadaan di tempat kerja mengganggu keluarga karena adanya tuntutan dari keluarga yang tidak dapat dipenuhi akibat urusan pekerjaan kantor. Sementara family-to-work conflict didefinisikan sebagai konflik yang terjadi ketika keadaan dalam keluarga mengganggu pekerjaan di kantor karena adanya kewajiban pekerjaan yang belum dapat dipenuhi akibat urusan keluarga. Penelitian ini dilakukan terhadap karyawan PT. Kalbe Farma, Tbk., dengan sampel sebanyak 75 responden dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan model regresi untuk mengetahui pengaruh family-to-work conflict dan work-to-family conflict sebagai variabel bebas terhadap kepuasan kerja karyawan sebagai variabel terikat. Setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan SPSS 19.0, maka disimpulkan bahwa work-to-family conflict memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja, sedangkan variabel family-to-work conflict tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Penelitian ini menunjukkan, karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi mengindikasikan bahwa karyawan tersebut memiliki tingkat work-to-family conflict yang rendah. Hubungan interpersonal yang terjalin baik antar pegawai dan lingkungan kerja yang menyenangkan cenderung mampu menetralisir suasana hati yang kurang baik akibat konflik yang terjadi rumah tangga. Selanjutnya, work-to-family conflict dan family-to-work conflict secara simultan memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Besarnya pengaruh kedua variabel independen tersebut terhadap kepuasan kerja adalah 10,9%. Sedangkan 89,1% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini yaitu kecerdasan (IQ), kondisi fisik karyawan, tingkat emosional karyawan, gaji dan tunjangan yang diperoleh, kondisi fisik lingkungan kerja, hubungan dengan atasan dan interaksi dengan karyawan lain.

KATA KUNCI: Konflik, family-to-work conflict, work-to-family conflict, kepuasan kerja.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masyarakat untuk Berlangganan Koran X

Widayatmoko


ABSTRACT
Information has an important role in human life. Information was obtained through a number of communication media, including newspapers. Reality shows, so many newspapers are offered to the public. Each customer would have the discretion to choose a newspaper. The purpose of this study was to identify demographic and behavioral characteristics of newspaper readers and find out the factors that influence people to subscribe to the newspaper X. These factors are situational, psychological, marketing mix, social and cultural. Situational factors include social sorrounding, physical sorrounding, the temporal effect, and the antecedent state. Psychological factors include motivation, perception, learning, and attitudes. Marketing mix includes product, price, promotion, and distribution. While social and cultural factors include reference groups, family, social class, and culture. Samples were taken from people living in the Bumi Serpong Damai, Serpong, South Tangerang, with 200 respondents. Respondents were randomly selected based on the block that has the most newspaper subscribers, according to data from the paper carrier officers in these locations. Data analysis tool that is used is a factor analysis. The results of the analysis of the factors that influence people to subscribe to the newspaper X, showing an average of 200 respondents in the category of “quite agree” and “agree” level. That is, the respondents are “quite agreed” and “agreed” that the factors of situational, psychology, marketing mix, social and cultural influence them to subscribe to the newspaper X. Furthermore, the result of factor analysis found there are 4 factors that influence people to subscribe to newspapers X, where the most dominant is: really want to know the latest news information, demand information, leisure time and family support for the subscription.

KEYWORDS: Newspapers, newspaper subscribers, consumer behavior, marketing mix.


ABSTRAK
Informasi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Informasi diperoleh melalui sejumlah media komunikasi, antara lain surat kabar. Kenyataan menunjukkan, begitu banyak surat kabar yang ditawarkan kepada masyarakat. Setiap pelanggan tentu memiliki pertimbangan sendiri untuk memilih sebuah Koran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik demografi dan perilaku dari pembaca surat kabar dan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap masyarakat untuk berlangganan koran X. Faktor tersebut adalah situasional, psikologis, marketing mix, dan sosial budaya. Faktor situasional mencakup lingkungan sosial, lingkungan fisik, dampak sementara, dan keadaan sebelumnya. Faktor psikologis mencakup motivasi, persepsi, pembelajaran, sikap dan psikologiapik. Marketing mix mencakup produk, harga, promosi, dan distribusi. Sementara faktor sosial dan budaya mencakup kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan budaya. Sampel diambil dari masyarakat yang tinggal di komplek perumahan Bumi Serpong Damai, Serpong, Tangerang Selatan, sebanyak 200 responden. Responden dipilih secara acak berdasarkan blok perumahan yang memiliki pelanggan koran yang paling banyak, berdasarkan data dari petugas pengantar koran di lokasi tersebut. Alat analisis data yang digunakan adalah analisis faktor. Hasil analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk berlangganan Koran X, menunjukkan secara rata-rata dari 200 responden berada pada kategori “cukup setuju” dan “setuju”. Artinya, responden cukup setuju dan setuju bahwa faktor situasional, psikologis, marketing mix, dan sosial budaya mempengaruhi mereka untuk berlangganan Koran X. Selanjutnya, melalui perhitungan dengan analisis faktor diperoleh hasil bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk berlangganan Koran X, di mana yang paling dominan adalah: sangat ingin mengetahui informasi berita terkini, tuntutan informasi, mengisi waktu luang dan dukungan dari keluarga untuk berlangganan.

KATA KUNCI: Surat Kabar, pelanggan surat kabar, perilaku konsumen, marketing mix


Konstruksi Lingkungan Usaha di Indonesia

Kresnohadi Ariyoto Karnen

 
ABSTRACT
Top executives of any corporation have to do with its environment changes surrounded their corporate operation. It is a very important to verify what are happening. Any event has to analyze whether   negatively or positively impact exist. To adjust the magnitude of the change, directors need a measure or some measures name indicator (s). The way to conceptualize or to measure environment can help people who have relationship with corporation (s) i.e. investors to make decision concerning their related investments. Conceptually, there are some experts put forward the concept of the business environment. Mintzberg (1993), for example, divides the business environment into four categories, namely: (a) stability, (b) complexity, (c) market diversity, and (d) hostility. Of the various existing concepts, the author reconstructs into a scheme which is expected to easily internalized grounded in the business environment in Indonesia. In the Indonesian context, there are several elements to be considered in understanding the business environment, the economic environment elements, legal element, the element of technology / energy, and geographic conditions. Indicators used from the economic environment such as GDP growth, industrial growth, GDP per capita, interest rate, money supply / inflation, growth in exports and imports, government spending, taxes / tax policy, fiscal policy. Elements of environmental and energy technologies include Indonesia HR competencies in technology, innovative technologies, renewable energy development, the availability of different types of energy. While the legal environment elements include, for example, adherence to the Constitution 45 and the various regulations made   by the regulatory body.

KEY WORDS:  Corporation, environment, indicator(s), investment.

ABSTRAK
Para eksekutif puncak setiap perusahaan harus mencermati perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar perusahaan mereka. Sangat penting bagi para eksekutif perusahaan untuk memahami secara pasti apa yang terjadi. Setiap kondisi lingkungan harus dianalisa untuk mengetahui apakah perubahan lingkungan memiliki dampak posisitif atau negatif terhadap operasional perusahaan. Untuk mengukur besarnya perubahan dan dampaknya bagi perusahaan, para eksekutif perlu mengetahui satu atau beberapa indicator pengukuran. Kemampuan dalam melakukan konseptualisasi atau mengukur perubahan lingkungan dapat membantu orang-orang terkait perusahaan, seperti para investor, untuk membuat keputusan mengenai investasi yang mereka lakukan. Untuk memahami indicator yang dibutuhkan dan cara pengukurannya, para eksekutif perlu memahami kondisi lingkungan yang terkait perusahaannya.

Secara konseptual, ada beberapa konsep yang dikemukakan para ahli tentang lingkungan usaha. Mintzberg (1993) membagi lingkungan usaha dalam empat katagori yaitu : (a) stability, (b) complexity, (c) market diversity, dan (d) hostility. Dari berbagai konsep yang ada, penulis merekonstruksi menjadi sebuah skema yang diharapkan mudah dihayati yang membumi dalam lingkungan usaha di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, ada beberapa unsure yang menjadi pertimbangan dalam memahami lingkungan usaha, yaitu unsur lingkungan ekonomi, unsur legal, unsur teknologi/energi, dan kondisi geografinya. Indikator yang digunakan dari lingkungan ekonomi antara lain pertumbuhan PDB, pertumbuhan industri, PDB per kapita, bunga kredit, uang beredar/inflasi, pertumbuhan ekspor impor, pengeluaran pemerintah, pajak/kebijakan perpajakan, kebijakan fiskal. Unsur lingkungan teknologi dan energy mencakup kompetensi SDM Indonesia dalam bidang teknologi, temuan teknologi, perkembangan energy terbarukan, ketersediaan berbagai jenis energi. Sementara unsur lingkungan legal mencakup, misalnya kepatuhan terhadap Undang-undang Dasar 45, berbagai peraturan yang masih berlaku yang dibuat oleh institusi berwenang.

KATA KUNCI:  Korporasi, lingkungan, indikator, investasi.