JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN INDONESIA NO.4 JULI - SEPTEMBER 2012

JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN INDONESIA NO.4 JULI - SEPTEMBER 2012

Pengaruh Brand Equity terhadap Corporate Reputation: Suatu Perspektif Customer Based Brand Equity dan Non-Customer Stakeholders Based Brand Equity Pada Suatu Perusahaan Pertambangan Indonesia
 
Resna Handayani
Adi Zakaria Afiff


ABSTRACT
This research tries to expand the reseach model developed by Wang, Kandampully, Lo, dan Shi (2006) in the business-to-business (B2B) industry by adding a Non-Customer Stakeholders Based Brand Equity perspectives. Wang et al’s model (2006) that studied the influence of brand loyalty, brand associations, perceived quality, and brand satisfaction factors to the corporate brand equity (customer-based brand equity perspective) will be compared to the influence of brand associations, perceived quality, and trust factors to the corporate brand equity (non-customer stakeholders based brand equity perspective). The research will also study the relation and influence of brand equity to the corporate reputation in the eye of key stakeholders (customers and non customers). This study uses a quantitative approach to examine the effect of the independent variable on the dependent variable. Research conducted on customers and non-customers a mining company with 160 respondents. Customer companies include corporate and retail buyers, while the population of non-customers include local governments, non-governmental organizations, the media and local society. The sampling method in this study were calculated using non-probability sampling. Primary data were collected through structured questionnaires. The findings show brand equity in B2B industry is important and significant because it will influence corporate reputation as a whole, both in terms of customer-based brand equity and non customer stakeholders brand. In terms of customer-based brand equity perspective, findings of this research shows that brand equity is significantly influenced by brand loyalty, brand associations, and perceived quality. While in terms of non-customer stakeholders based brand equity perspective, findings of this research shows that brand equity is significantly influenced by perceived quality and trust.

KEYWORDS: Brand equity, corporate reputation, brand loyalty, brand associations, perceived quality and trust

ABSTRAK
Penelitian ini berusaha mengembangkan model penelitian Wang, Kandampully, Lo, dan Shi (2006) dalam industri B2B (pasar bisnis) dengan menambahkan perspektif Non-Customer Stakeholders Based Brand Equity perspectives. Model Wang et al (2006) yang meneliti pengaruh brand loyalty, brand associations, perceived quality, dan brand satisfaction terhadap corporate brand equity (customer-based brand equity perspective) akan dibandingkan dengan pengaruh dari brand associations, perceived quality, and trust terhadap corporate brand equity (non-customer stakeholders based brand equity perspective). Penelitian ini juga akan melihat hubungan dan pengaruh brand equity to the corporate reputation di mata stakeholders utama (customers and non customers). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji pengaruh variable independen terhadap variable dependen. Penelitian dilakukan terhadap pelanggan dan non-pelanggan sebuah perusahaan pertambangan dengan 160 responden. Pelanggan perusahaan mencakup pembeli korporasi dan pembeli ritel, sedangkan populasi non-pelanggan mencakup Pemerintah Daerah, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan masyarakat yang ada di sekitar perusahaan. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode non probability sampling. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa brand equity dalam pasar B2B adalah penting dan secara signifikan berpengaruh positif terhadap corporate reputation secara keseluruhan, baik dari perspektif customer-based brand equity maupun non-customer stakeholders based brand equity. Dalam perspektif customer based brand equity, hasil studi ini menunjukkan bahwa brand equity dipengaruhi secara signifikan oleh brand loyalty, brand associations, dan perceived quality. Sedangkah hasil penelitian dari perspektif non-customer stakeholders based brand equity perspective, bahwa brand equity dipengaruhi secara signifikan oleh perceived quality and trust.

KATA KUNCI: Ekuitas merek, reputasi perusahaan, loyalitas merek, asosiasi merek, persepsi kualitas and kepercayaan


Kinerja Operasional Pasca-Right Issue di Pasar Modal Indonesia:
Studi Tahun 2007-2009

Tatang Ary Gumanti
Elok Sri Utami
Bambang Sutrisno


ABSTRAK
Right issue is limited share offer prioritized to existing shareholders with the purpose of obtaining additional capital of the firm. Additional funds generated from right issue are expected to enable firm in improving its financial performances in the future. The funds from the issue could be used either for investment purposes or payout the firm’s debt. Thus, important aspect related to right issue is whether financial performances of the firm would improve after generating additional funds. This study aims to analyze the effect of right issue on operating performance of the firm. This study uses secondary data from the Indonesian Stock Exchange over the periods of 2007-2009. A sample of 18 right issues met the criteria selction. There are four operating performance measures to be examined, namely operating return on assets (ORA), operating cash flow to total assets (OCFTA), sales growth, and total assets turnover (TATO). The operating performance of the company after right issue is not better than before right issue. In other words, the study does not find consistent and significant difference among four variables being examined, although there is a tendency of declining performance after the right issue. This means that firms are unable to improve their financial performance, at least in the short term.

KEYWORDS :  Right issue, operating performance, capital market


ABSTRAK
Right issue, dalam bahasa Indonesia disebut Hak Memesen Efek Terlebih Dahulu, adalah penawaran saham terbatas yang ditujukan kepada pemegang saham lama dengan tujuan untuk menambah modal perusahaan. Tambahan modal yang masuk ke dalam perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan di masa mendatang. Dana dari hasil right issue juga ada yang digunakan untuk keperluan investasi atau membayar hutang perusahaan. Isu menarik terkait dengan right issue adalah apakah kinerja keuangan perusahaan akan meningkat setelah mendapatkan tambahan dana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh right issue terhadap kinerja operasional perusahaan. Penelitian ini menggunakan data sekunder atas perusahaan-perusahaan yan melakukan right issue di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009. Sebanyak 18 perusahaan memenuhi kriteria penetapan sampel. Ada empat ukuran kinerja operasional yang diuji, yaitu tingkat pengembalian operasi atas aset (operating return on assets (ORA), aliran kas operasi atas total aset (operating cash flow to total assets (OCFTA), pertumbuhan penjualan (sales growth), dan perputaran total aset (total assets turnover (TATO). Kinerja operasional perusahaan sesudah right issue tidak lebih baik atau dapat dikatakan tidak berbeda dengan kinerja sebelum right issue. Dengan kata lain, penelitian ini tidak menemukan adanya perbedaan kinerja yang konsisten dan signifikan pada keempat ukuran yang diuji walaupun secara umum tren kinerjanya memang cenderung menurun. Artinya, right issue yang dilakukan oleh perusahaaan tidak mampu meningkatkan kinerja operasional perusahaan, setidaknya dalam jangka pendek.

KATA KUNCI :  Right issue, kinerja operasional, bursa efek

 
Struktur Permodalan Bank: Studi terhadap 31 Bank yang Terdaftar di BEJ Periode 2006-2010

Linda Kartika Sanistyaningrum
Imo Gandakusuma


ABSTRACT
Capital structure is the one most important component in bank. Determination of the optimal capital structure needs to be done because of the bank’s capital structure is one of the important things in determining the success of a bank. The research was conducted to identify the effect of variables profitability, growth, asset tangibility, size, tax, and non-debt tax shield on capital structure, both the influence of each variable and the effect together. This study uses a quantitative approach to examine the relationship of six variables and bank leverage through panel data regression. The sample was 31 banks listed in the Indonesia Stock Exchange (IDX) during 2006-2010. The data used in this study are economic and financial data (income statement and balance sheet) of the banks listed in IDX. Based on research result of each variables, four variables are statistically significantly related to capital structure is profitability, growth, assets tangibility, size and two variables are statistically unsignificantly related to capital structure is tax and non-debt tax shield. The study also shows that there are three variables (growth, size, and tax) that have a positive effect and three variables (profitability, asset tangibility and non-debt tax shield) negatively affect the capital structure. Thus it can be said, growth and size has a significant positive effect on capital structure, while profitability and asset tangibility have a significant negative effect on capital structure. Based on result to indentifying all variabels effect is all variabels profitability, growth, assets tangibility, size, tax and non-debt tax shield effect of capital structure.

KEY WORDS: Banking, capital structure, factor, panel data regression


ABSTRAK
Struktur modal merupakan salah satu komponen yang penting pada bank. Penentuan struktur modal yang optimal perlu dilakukan karena struktur modal bank merupakan salah satu hal yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu bank. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel profitability, growth, asset tangibility, size, tax, dan non-debt tax shield terhadap struktur modal, baik pengaruh masing-masing variabel maupun pengaruh secara bersama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk melihat hubungan leverage bank dengan enam variabelnya melalui regresi panel data. Sampel penelitian ini adalah 31 bank yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode tahun 2006-2010. Data yang digunakan adalah data ekonomi dan keuangan (income statement dan balance sheet). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap masing-masing variabel, terdapat empat variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap struktur modal yaitu profitability, growth, assets tangibility, size serta terdapat dua variabel yang tidak signifikan terhadap struktur modal yaitu tax, dan non-debt tax shield. Penelitian ini juga menunjukkan, terdapat tiga variabel (growth, size, dan tax) berpengaruh positif dan tiga variabel (profitability, asset tangibility, dan non-debt tax shield) berpengaruh negatif terhadap struktur modal. Dapat dikatakan, growth dan size berengaruh positif secara signifikan, sementara profitability dan asset tangibility berpengaruh negatif secara signifikan terhadap struktur modal. Hasil pengujian untuk mengidentifikasi pengaruh secara bersama-sama menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara bersama-sama antara variabel-variabel profitability, growth, asset tangibility, size, tax, dan non-debt tax shield terhadap struktur modal.

KATA KUNCI: Bank, struktur modal, faktor, regresi panel data.

 
Nilai Invetasi Berdasarkan Ambiguity Aversion dan Illusion of Control

Pamela Marchelli
Supramono


ABSTRACT
This research examines the difference of investment value based on the psychological aspects of ambiguity aversion and illusion of control. Two previous studies done on students in Chicago and Brazil prove that students experience ambiguity aversion and illusion of control, but there tends to be differences in investment between them, so that there is still a gap to do further research. The research is done with an experimental method. The study was conducted on 20 students of Master of Management Education, Satya Wacana Christian University, Salatiga, who was taking a class in Financial Management. The investment value is measured by using indicators of questions about the investment expectations taken from Charness and Gneezy (2003). Ambiguity aversion is measured by using a choice of bag (A and B) and predictions taken from experiments of Charness and Gneezy (2003). Illusion of control is measured by the choice of rolling the dice by themselves or rolling the dice by experimenter as did by Charness and Gneezy (2003). The results from this experiment seem to be more closely related with the Chicago’s student experiment results, students experience ambiguity aversion but their investment does not tend to be different between what is expected in a known probability of success condition with an unknown probability of success. In addition, students also experience illusion of control, but the investment does not tend to be different between what is expected in a condition where they had control with a condition where they did not had control.

KEYWORDS:  Ambiguity aversion, illusion of control, value of investment, behavioral finance.


ABSTRAK
Penelitian ini menguji perbedaan nilai investasi berdasarkan pada aspek psikologis, yaitu ambiguity aversion dan illusion of control. Dua studi sebelumnya dilakukan pada siswa di Chicago dan Brasil membuktikan bahwa siswa mengalami ambiguity aversion dan illusion of control, tetapi ada kecenderungan perbedaan dalam dalam melakukan investasi antara mereka, sehingga masih ada celah untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen. Penelitian dilakukan terhadap 20 orang mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang sedang mengambil kelas Manajemen Keuangan. Nilai investasi diukur dengan menggunakan indikator pertanyaan mengenai harapan akan investasi yang diambil dari Charness dan Gneezy (2003). Ambiguity Aversion diukur dengan menggunakan pemilihan jenis tas (tas A dan tas B) serta prediksi yang diambil dari eksperimen Charness dan Gneezy (2003). Illusion of control diukur dengan pilihan melempar dadu sendiri atau eksperimenter yang akan melempar seperti yang dilakukan Charness dan Gneezy (2003). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat dengan hasil percobaan terhadap siswa di Chicago, siswa mengalami ambiguity aversion tapi investasi mereka cenderung tidak mengalmi perbedaan antara apa yang diharapkan dalam kondisi yang jelas probabilitas keberhasilannya dan kondisi yang tidak diketahui probabilitas keberhasilannya. Selain itu, siswa juga mengalami illusion of control, tetapi investasi mereka cenderung tidak berbeda terhadap apa yang diharapkan dalam kondisi yang berbeda, dalam kondisi di mana mereka memiliki kontrol dengan kondisi di mana mereka tidak memiliki kontrol.

KATA KUNCI: Ambiguity aversion, illusion of control, value of investment, behavioral finance.

 
Faktor Penentu Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan dalam Layanan Jasa Penerbangan: Studi Pada Pengguna Lion Air

Ignatius Heruwasto
Arrina Wulan Aprilia


ABSTRACT
The satisfaction and loyalty theory development have been matured. Although its maturity, that concepts still attractive to be studied for the practical reason. The question of what is the driving factor that influence the airliner passenger satisfied and loyal, is the main question of this article. This study aims to identify the determinants of customer satisfaction and it influence on customer loyalty. Customer satisfaction views of the five dimensions of service quality by Parasuraman (1988), that is tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. This study uses quantitative methods to Lion Air’s customer at Soekarno Hatta Airport, with a sample size is 100 respondents. This research used direct survey method, using a questionnaire with interview techniques, to collect data. The results showed that of the five dimensions examined, only two proven factors driving customer satisfaction, namely assurance and empathy. From these two important factors, the customer assess assurance factors have less good performance. Furthermore, customer satisfaction proved to be the dominant factor in driving loyalty of Lion Air’s customer. Research has shown, not all dimensions rated by customers performing well. Of the five dimensions studied, there are three dimensions that assessed performing well, that is tangible, responsiveness, and empathy. Assurance dimension judged to have less performance, while the dimensions of reliability underperforming. Thus, in order to increase customer loyalty, which is the main target of the current marketing, companies need to consider both important factors, namely assurance and empathy.
 
KEYWORDS : Customer satisfaction, customer loyalty, service, empathy.


ABSTRAK
Pengembangan teori loyalitas dan kepuasan pelanggan telah mengalami perkembangan yang sangat intensif dan saat ini telah matang. Walaupun telah dikenal berbagai konsep yang mendasari dari teori-teori yang terkait dengan loyalitas dan kepuasan, namun dalam sisi praktek masih tetap menarik untuk diteliti secara spesifik faktor pendorong dan penyebab hal tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penentu kepuasan pelanggan dan pengaruh kepuasan terhadap loyalitas pelanggan. Kepuasan pelanggan dilihat dari kelima dimensi kualitas layanan menurut Parasuraman (1988), yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif terhadap pengguna jasa penerbangan Lion Air yang ditemui di Bandara Soekarno Hatta, dengan jumlah sampel adalah 100 responden. Dalam penelitian ini dilakukan survei langsung, menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan, dari kelima dimensi yang diteliti, hanya dua faktor yang terbukti mendorong kepuasan pelanggan, yaitu assurance dan empathy. Dari ke dua faktor penting tersebut, ternyata faktor assurance dinilai oleh pelanggan kurang baik kinerjanya. Selanjutnya, kepuasan pelanggan terbukti merupakan faktor pendorong yang dominan terhadap loyalitas pelanggan Lion air. Penelitian ini juga tidak semua dimensi dinilai pelanggan berkinerja baik. Dari kelima dimensi yang diteliti, terdapat tiga dimensi yang dinilai berkinerja bagus, yaitu tangible, responsiveness, dan emphaty. Sementara dimensi assurance berkinerja kurang, dan dimensi reliability berkinerja buruk. Dengan demikian, untuk meningkatkan loyalitas pelanggan, yang merupakan sasaran utama dari pemasaran saat ini, perusahaan perlu memperhatikan kedua faktor penting, yaitu assurance dan empathy.

KATA KUNCI: Kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan, layanan, empati.

 
Pemilihan Supplier Menggunakan AHP dengan Kriteria COTOV dan Metode Five-Point Rating Scale Pada Industri Percetakan


Amak Mohamad Yaqoub
Nining Choirunnisak


ABSTRACT
One of the important activities in supply chain management is procurement management, since it determines the quality of product to be produced, delivery time, and cost of production. Understanding the best practice in purchasing management is essential for a company to reach competitive advantage. The purpose of this study is to identify COTOV criteria (Capital expenditure, Operating expenditure, Technical, Operational, and Vendor) and the supplier selection sub criteria that suitable with printing business. Analytical Hierarchy Process (AHP) then implemented to do the supplier selection system for raw materials procurement, specifically for paper supply. Five point rating scale (Outstanding, Good, Average, Fair, and Poor) then applied to rate the performance of each vendor based on the prearranged criteria. To test the validity of proposed criteria and sub criteria, a case study was conducted at Company XYZ. It is a printing company located in Surabaya. Using AHP and Five-Point Rating Scale method, it is found that system capacity is the first priority for a printing business to select paper supplier (AHP weight 0,403). The next priority is Ease of Operation (AHP weight 0,202) and Features/Characteristics (AHP weight 0,101). On the other side of continuum, Problem Solving Capacity is the last priority with weight 0,005. Discussion and further research directions are provided in the last part of this paper.

KEYWORDS:  supplier selection, COTOV criteria, Analytical Hierarchy Process (AHP) and Five-Point Rating Scale method


ABSTRAK
Salah satu aktifitas penting dari manajemen rantai pasok adalah pengelolaan pengadaan barang, karena berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas produk yang akan dibuat, jadwal pengiriman barang jadi ke konsumen, dan juga biaya produksi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tata kelola terbaik dalam pengadaan sangat penting bagi setiap perusahaan untuk mencapai keunggulan bersaing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kriteria-kriteria yang diperhatikan dalam pemilihan pemasok pada industri percetakan dengan menggunakan parameter COTOV (Capital expenditure, Operating expenditure, Technical, Operational, and Vendor) yang sesuai untuk diaplikasikan pada perusahaan percetakan. Setelah didapatkan kriteria dan sub kriteria tersebut, selanjutnya dilakukan pemilihan vendor dengan menggunakan teknik Analytical Hierarchy Method (AHP). Dalam pelaksanaan AHP, juga dikombinasikan dengan metode rating lima skala. Skala rating tersebut terdiri dari lima poin penilaian, yaitu outstanding (O), good (G), average (A), fair (F), dan poor (P). Untuk melakukan uji validitas penggunaan model pemilihan supplier ini, sebuah studi kasus dilakukan pada sebuah perusahaan percetakan XYZ yang berlokasi di Surabaya. Berdasarkan hasil penilaian, didapatkan bahwa prioritas utama pemilihan supplier untuk industri percetakan adalah kapasitas dari sistem (skor AHP 0,403). Kriteria penting selanjutnya adalah kemudahan operasional (skor AHP 0,202) serta fitur dan karakteristik (skor AHP 0,101). Di sisi lain, sub kriteria yang memiliki penilaian terendah, yang mengindikasikan tingkat kepentingan terkecil adalah kemampuan penyelesaian masalah yang dinilai dengan skor AHP 0,005. Pada bagian akhir paper ini juga disampaikan kesimpulan, diskusi dan saran untuk penelitian lebih lanjut.

KATA KUNCI: Pemilihan Pemasok, Kriteria COTOV, Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Metode Rating Lima Skala.